Jakarta - Elizabeth, 30 tahun, manager sebuah perusahaan perbankan gusar. Ini hari kedua ia berburu alas kaki berlogo buaya merek Crocs. Kemarin Ia tidak kuasa menunggu antrian dan memilih untuk pulang tanpa hasil. “Saya sudah datang kemarin, tapi ga keburu beli karena ga ada waktu. Hari ini harus berhasil,” ujar perempuan berbusana setelan blazer abu - abu ini.

Lizbet, begitu panggilannya, mengaku bolos dari kantor demi mendapatkan alas kaki idamannya. “Teman - teman mem-backup saya di kantor, sebagai ganti mereka nitip dibeliin,” kata dia. Tak tanggung - tanggung, 15 pasang sandal sudah dalam daftar, Lizbet yang datang seorang diri harus menganggung pembelanjaan teman - teman dengan kartu kreditnya. Dengan menggunakan kartu kredit tertentu, pengunjung mendapatkan diskon tambahan 15 persen. “Tapi saya baru ingat kartu kredit saya sudah limit,” ujarnya ragu. Ia pun terpaksa menggunakan kartu lain dengan resiko tidak mendapatkan potongan tambahan.

Menurut Lizbet, pertaruhannya kali ini bukanlah pemborosan. Ia berkilah, produk Crocs sebelumnya tidak pernah melakukan obral potongan harga besar - besaran. “Kapan lagi ada acara kayak gini, saya penasaran” kata dia. Ia tidak pernah menggunakan produk Crocs sebelumnya.

Obral besar produk Crocs menempati ruangan ballroom lantai 8 gedung Senayan City mal lantai 8. Deretan sepatu dan sandal warna warni disusun sederhana dalam meja - meja panjang. Di bagian tengah ruangan terdapat deretan kardus besar yang diisi sandal sepatu dengan diskon 70 persen. Sebagian besar produk disusun tanpa bungkus plastik atau kardus hingga tidak jarang Crocs-Lover, julukan pengila produk ini harus memilih sendiri pasangan kanan kiri sepatu dan sendal. “Mohon dicek kembali nomor sepatu yang dipilih, jangan salah pilih,” ujar petugas dalam pengeras suara mengingatkan.

Setiap pengunjung hanya dibekali kantong kresek transparan untuk menampung barang belanjaan. Di sudut - sudut ruangan, banyak pengunjung duduk di lantai sambil mencoba hasil buruan mereka. Produk yang ditawarkan terbagi atas sandal dan sepatu untuk anak - anak, perempuan dan lelaki. Di hari keempat penjualan, produk yang tersisa didominasi alas kaki anak - anak. Lizbet mengaku kecewa. “Saya ga dapat apa - apa. Yang ditawarin ga banyak, ukurannya pun ga lengkap,” kata perempuan dengan ukuran kaki 9 ini. Terpaksa ia gigit jari dan sibuk mencari pesanan teman - teman yang lain. “Payah yah, padahal sudah jauh - jauh antri,” kata dia.

Saat tengah hari petugas mengumumkan penurunan harga. Dua produk alas kaki dewasa yang sebelumnya dipotong 50 persen, menjadi diskon 70 persen. “Mudah - mudahan semakin sore, semua didiskon 70 persen,” kata Lisbet sambil terkikik. Ia melihat ini upaya menarik hati pengunjung dewasa yang mulai kehabisan pilihan belanja.

Meski sudah dipotong besar - besaran, pengunjung masih harus menyiapkan kocek ratusan ribu untuk sebuah sandal. Harga termurah yang ditawarkan setelah diskon adalah Rp 179.900 untuk sebuah sepatu perempuan dengan ornamen bulu sintetis. Sedangkan untuk laki - laki dan anak, harga berkisar Rp 225 hingga Rp 600 ribu. Jenis produk yang ditawarkan berkisar 40 jenis sandal dan sepatu dengan jumlah terbatas. Tidak lupa Jibbits, pin penghias lubang khas produk Crocs dibandrol seharga Rp 50 - 75 ribu untuk pembelian 5 buah.

Tapi tidak semua pengunjung kecewa. Wulan, 41 tahun, ibu empat anak asal Bintaro mengaku senang mendapatkan alas kaki idaman. “Saya beli 5 pasang untuk anak dan suami, saya malah tidak dapat,” kata dia. Ia menuturkan, sudah lama anak - anaknya yang sudah menginjak remaja minta dibelikan produk Crocs. “Tapi karena harganya selangit, saya tidak beli,” tambahnya. Kesempatan obral kali ini tidak ia sia - siakan meski harus antri membeli hingga 2,5 jam. “Saya sampai masuk angin karena belum makan dari pagi,” kata dia.

Puas membeli, pengunjung belum bisa bernafas lega. Membayar belanjaan pun harus antri. Tak tanggung - tanggung, tiga lapis barisan menanti meski sudah terdapat 22 meja kasir. “Saya ingin buru - buru pulang, ini sudah keringat dingin,” tutur Wulan. Rata - rata pembeli memborong 4 hingga 9 pasang alas kaki untuk keperluan keluarga atau pesanan teman - teman kantor. Total dibutuhkan sekitar 5 jam untuk mendapatkan si alas kaki buaya ini, 2 jam antrian masuk lokasi, 1 jam berbelanja dan 2 jam antri membayar. Toh pengunjung seperti Wulan tetap tersenyum lega. “Rasa lelah hilang saat melihat anak - anak gembira mendapatkan apa yang diinginkan. It’s all worth it,” kata dia.

Jakarta - Pengeras suara Senayan City baru mengingatkan pekerja agar bersiap karena mal akan dibuka umum pukul 10 pagi, namun pengunjung sudah mulai berkerumun di tiga lift yang memiliki akses langsung ke lantai 8. Orang dewasa, remaja, hingga anak kecil beserta pengasuhnya tak sabar ingin berburu alas kaki berlogo buaya. Jam baru menunjukkan pukul 9.30 pagi.

Hari ini, 23 April 2009 merupakan hari keempat penjualan produk alas kaki Crocs asal Amerika Serikat. Penjualan yang berlangsung di aula paling atas gedung Senayan City ini menarik begitu banyak minat karena potongan harganya yang miring. Sepatu dan sendal yang biasanya dijual Rp 400 hingga 800 ribu kini mendapat potongan harga 30 sampai 70 persen.

Namun untuk mendapatkan alas kaki yang diincar, perjuangan Croc-lovers, julukan pengila produk ini tidak sedikit. Untuk awalnya mereka harus terlebih dahulu berjuang menuju lantai 8. Yang memilih lift, terpaksa kecewa. Pasalnya begitu terbuka, lift sudah penuh sesak dan tak ada lagi ruangan untuk menampung. Beberapa memaksa masuk, yang lain memilih lift yang letaknya lebih jauh atau naik eskalator. Sayangnya akses langsung ke lantai 8 sudah ditutup sedari pagi, antrian bak ular tangga mulai menjalar dari lapangan parkir lantai 6. Padahal saat itu jam baru akan menunjukkan pukul 10 pagi.

Wulan, 41 tahun, ibu empat anak asal Bintaro mengaku menyesal tidak datang lebih pagi, padahal ia sudah berangkat jam 9. “Harusnya datang lebih pagi, saya tidak nyangka antrian sudah sepanjang ini,” ujarnya.

Antrian masuk ke lokasi bazar dibuat berlapis dan memanjang. Di mulai dari pintu akses lapangan parkir lantai 6, terus memanjang melewati tangga eskalator dan memutari seluruh areal deretan toko lantai 6. Pagi itu jumlah pengunjung antrian mencapai 500 orang. Setelah naik eskalator menuju lantai 7, perjuangan belum berakhir. Pengunjung diminta menduduki deretan kursi yang tersedia. Jumlahnya kira - kira 100 kursi. “Harap menempati kursi masing - masing, masuknya dihitung per dua puluh orang,” seru petugas yang menjaga.

Penjagaan antrian penggila Crocs ini cukup memadai. Petugas keamanan bersafari hitam berjaga di setiap sudut, mengamankan pengunjung yang menyelinap dan malas antri. Tapi tetap saja, beberapa orang berhasil menyerobot. Alasannya berbagai macam, mulai dari baru kembali dari kamar kecil, habis beli makanan hingga mengaku teman.

Lantai 8 tampaknya belum menjadi titik akhir. Injakan kaki ke puncak teratas gedung Senayan City ini diikuti oleh antrian dan deretan 3 lapis kursi sebagai pembatas dan tempat duduk, sebelum akhirnya memasuki aula. Reporter Tempo, yang ikut dalam antrian memerlukan waktu sekitar 2,5 jam untuk masuk ke areal penjualan.

Pengaruh Media

November 6, 2008 | | 3 Comments

Ketika kumpul dengan kawan - kawan lama, percakapan ini muncul:

Elo besar dari apa?”

Pertanyaan itu mengacu pada besarnya pengaruh media yang dikonsumsi selama kami tumbuh dengan wujud kami sekarang. Premis kawan mengatakan apa yang dibaca, mempunyai pengaruh besar dengan pola pemikiran kami sekarang. Harap dicatat kawan ini adalah profesional kelas tinggi yang sudah merambah kancah internasional.

Seorang kawan bercerita meski orang tuanya guru desa, si ayah tetap ngotot langganan tiga media. Kompas, Pikiran Rakyat dan kala menginjak bangku SMP, dia berkenalan dengan the Jakarta Post.

Kawan lain, tak mau kalah, besar dengan Republika dan Kompas. Tak lama pertanyaan yang sama ditujukan pada saya.

“Kalo elo, besar dari apa ven?”

Bingung, jawaban saya singkat. Hmm…Bobo.

Teman saya ikutan bingung dan berkata “Dasar orang kaya, dari dulu gw selalu mikir cuman orang kaya yang langganan majalah anak - anak” Hihihi…yah itulah bedanya saya dan mereka, bukan berarti kaya, mereka yang dari kecil terimbas media berita sudah merambah luar negeri. Saya, hanya berkutat di lokal. Siapa suruh tumbuh bersama Bobo hihihi

Basa basi

November 5, 2008 | | Leave a Comment

Seminggu terakhir keseharian saya penuh basa basi. Percakapan keluar ala kadarnya. Bukannya tidak tulus, tapi lebih terbebani tuntutan memuaskan orang lain. Hingga tidak lepas. Yang terucap adalah apa yang harusnya dikatakan. Bukan apa yang sesungguhnya ingin diucap. Asal Bapak senang, asal ibu senang, asal semua senang.

Tinggal saya gigit jari merengut sendiri. Belum terbiasa jadi robot, tanpa rasa dan asa. Menyenangkan orang lain membuat energi terkuras dan karena dikeluarkan setengah hati, saya terpuruk sendiri. Di penghujung hari, yang terasa hanyalah sia - sia.

Sayang anjing

November 4, 2008 | | 1 Comment

Minggu lalu, saat sepi sendiri di kantor, tiba - tiba seorang teman datang. Dengan setengah suara, sedikit berbisik, dia bertanya, “Ven, loe suka anjing ga?” Hmmm ada jeda sedikit, saya berpikir kemudian bilang, “Biasa aja.” Jeda lagi. “Gw lebih suka seafood”

Teman saya langsung memelas “Loe jahat banget sih….” Ohala, ternyata yang dimaksud ialah mahluk lucu hewan peliharaan itu. Dia hendak menawarkan anjing rottweiler tuk saya adopsi. Mendengar jawaban saya, bubar sudah niatnya.

Sungguh saya bukan kanibal. Entah apa yang merasuk hingga saat pertanyaan bergulir, yang terpikir adalah makanan, bukan binatang. Saya bukan pemakan doggie sejati. Pernah makan sekali, itupun tak rencana mengulangi. Harus dilihat konteks peristiwanya. Kala itu jelang makan malam, perut keroncongan hingga persepsi ga jauh - jauh dari perut.

Rayuan tak berbalas, teman saya pergi menjauh dan batal menawarkan anjingnya pada saya. Oh…maafkan aku….

Eksperimen

November 3, 2008 | | 2 Comments

“Pakai baju apa tadi?”

Biasa aja. Saya ga punya banyak baju. Jarang banget punya baju feminim. Kalaupun ada paling dikasih atau turunan dari nyokap. Sering banget saya terima baju bekas layak pakai. Mama bisa bongkar lemari dan kasih baju masa mudanya ke saya. Gimana tolaknya coba? Ujung - ujungnya lemari saya penuh. Tapi menerima bukan berarti akan dipakai kan?

Terkadang beberapa saya pakai tuk eksperimen. Lagipula memang tidak ada baju, bosan dengan yang lama, gunakan akal ubah pakaian jadul agar bisa diterima khalayak masa kini. Beberapa yang sukses antara lain, blue jeans cutbray yang meski jahitan ujung celana sudah didodol, tetap saja ngatung jika dipakai (saya memang lebih tinggi dari mama). Lalu kemeja coklat ala kelasi lengkap dengan dasi pendeknya. Dan terakhir yang saya pakai di pesta tadi. Atasan biru tanpa lengan dengan kerah lebar bergelombang. Bahannya agak transparan hingga harus pakai dalaman hitam. Baju itu rasanya cukup mewakili, tidak terlalu mewah ke kantor, juga tidak menyedihkan tuk pesta. Cukup dikombinasikan dengan celana kain hitam. Sederhana.

Pilihan itu memuaskan. Sukses mewakili kantor - gereja - resepsi. Sempurna. Cuman setibanya di rumah, komentar mama cuman satu “Kamu pakai baju terbalik” Memang saya mengenakannya dengan kancing di belakang, karena saya pikir demikian. Kan banyak baju jaman dulu yang modelnya kancing di belakang. Dari dulu saya pikir begitu cara pakainya. Ternyata saya salah.

Jadi kebayang ga sih, seharian ini, baik di kantor, gereja, bahkan saat nampang di pesta kawinan bekas gebetan, saya pakai baju terbalik. Yang di belakang saya taruh di depan. Luar biasa, benar - benar eksperimen. Seharian ini cuman mama yang berani bilang saya pakai baju terbalik. Yang lain, antara tidak mengerti atau jangan - jangan mereka memandang aneh dan bingung gimana bilang ke saya yang sangat PD mengenakan baju ajaib itu.

Pokoknya hari ini benar - benar luar biasa.

Kostum Minggu

November 2, 2008 | | Leave a Comment

Ini hari minggu, again, saya kerja, no complain. Tapi katanya, saya sudah terkena syndrom ‘kepahitan’ kerja di hari minggu karena dari tadi ngebayangin punya doraemon mulu. Pintu Ajaib, baling - baling terbang, andai ada doraemon…..Ah…sudahlah.

Minggu ini, lagi - lagi sibuk harus berakrobat antara gereja dan kerja. Ditambah kondangan wajib dan pameran S2 di kuningan “Loe mau S2 ga?” tanya teman. Langsung aja jawab, “Ga ada waktu,” untuk ke pameran maksudnya, S2 masih tetep; tetep di hati, tetep diniatin. Dan main sirkus di hari minggu, paling repot urusan kostum.

Gini, orang kantor sangat terpaku dengan kostum mereka yang sangat santai, tidak formal bahkan terkesan ’selengean’. Nah, saya tidak mungkin selalu bergaya seperti itu. Terkadang memang, tapi tidak selalu. Saya masih sering mengenakan kemeja dan rok pendek tuk kerja. Pakaian rapi yang kemudian dipertanyakan orang “Wueh..pake rok loh….; abis dari mana?; abis ada wawancara ya?” dan banyak vonis lainnya. Buat saya, kerja di lapangan tidak berarti tidak bisa dandan rapi (note: by look, not by make up) lagipula, dengan jam kerja dahsyat saja sulit cari pasangan, apalagi ditambah penampilan urakan? Kapan lakunya? Huehehe tapi jujur niat kostum rapi bukan tuk gaet lawan jenis, tapi lebih pada keinginan pribadi. Ngikutin mood aja, apa yang ada di pikiran digabung dengan apa yang dilihat mata. Jadi deh kostum hari itu.

Saya belum menemukan kostum yang tepat di hari minggu. Kalo ngikutin mood, pengennya pake daster, celana gobrong, kaos belel, gaya kostum malas kerja & pengen tidur. Pernah satu kali saya kenakan kostum itu, yang ada saya malah ditanya “Itu abis cuti hamil yah?” Tidak sopannnnn…..

Kalo ngikutin acara, lebih repot. Karena jam kerja ga bisa ditebak, saya harus siap kemungkinan tidak bisa ganti kostum. Artinya baju yang melekat akan saya bawa pergi ke gereja dan kondangan. Lalu, ga mungkin donk gaya ngasal pas gereja? Tapi kenapa juga ke gereja harus rapi? Ga ada alasan pasti, mungkin karena terbiasa dari kecil atau niat memberikan yang terbaik, termasuk penampilan. Jadi, seperti biasa, kostum hari minggu pasti jauh beda dari hari lainnya. Harus lebih istimewa.

Lalu urusan pesta. Ini lebih repot lagi. Pesta berarti, saya harus pakai lensa kontak, dandan tipis dan baju rapi. Paling tidak baju yang bisa dipake dugem. Tidak harus gaun panjang, cukup baju sedikit ajaib. Kalau bisa sedikit terbuka biar didera undang - undang pornografi huehehe.

Akhirnya saya pusing. Gimana caranya pilih baju yang ga bikin heboh di kantor, tapi cukup manis dipakai ke gereja dan cukup mewakili ke pesta kawinan. Bingung. Ga mungkin pakai kemben ke kantor, sebaliknya ga mungkin pake kemeja ke kondangan. Biar gampang memang, boyong aja semua kostum, trus cari tempat ganti, mandi dan seperti dulu kala main baju - bajuan, ganti baju sana sini. Masalahnya, tidak ada tempat mandi dan waktu tuk ganti.

Ga mungkin mandi di kantor yang hanya memiliki satu toilet duduk. Kamar mandi unisex yang jadi rebutan kaum adam dan hawa. Hasilnya, dudukan toilet gantian diangkat atau ditutup. Diangkat berarti baru dipakai lelaki, ditutup perempuan. Tidak ada urinoir, hingga terpaksa berbagi satu tempat pembuangan. Yang parah, tidak ada tempat cuci tangan. Apakah para dewa tidak tahu betapa banyaknya kuman bakteri menempel saat berurusan dengan area belakang? Membayangkan berbagi toilet dengan lawan jenis saja bikin saya males ke WC, apalagi mandi? duh…terima kasih deh.

Kalaupun saya mandi di kantor, tetap tidak menyelesaikan masalah. Mustahil saya keluar kamar mandi dengan kostum pesta. Bisa disorakin dan bikin gempar.

Keputusan akhir yah pilih baju sekenanya, tidak maksimal. Ga terlalu rapi, ga terlalu santai. Yang jadi korban adalah teman saya karena saya tampil terlalu santai ke pestanya. Mo gimana lagi, putusan dewa yang memperkerjakan saya di hari minggu belum bisa dipatahkan. Jadi terima nasib deh.

Terkungkung Sepi

November 1, 2008 | | Leave a Comment

“Sudah dua minggu kalian di sini, harusnya sudah adaptasi. Kalian tidak kami anggap anak baru lagi, apalagi dibilang kalian itu bagus - bagus”

Tak tahu harus tersanjung atau malah mengecam orang yang membisikkan informasi ke para dewa itu. Kenapa harus dibilang bagus segala sih, yang ada malah jadi beban. Huuh….Hampir tiga minggu saya belum memanggil tempat ini rumah. Di belakang kepala masih terngiang tempat lama, baik rutenya, orang - orangnya, rutinitasnya. Dan yang paling menyiksakan yah seperti ini, pulang dari lapangan menemukan kantor kosong melompong. Teman lain, antara masih di lapangan atau malas balik ke kantor. Sepi, kosong, hampa, suasana yang seakan menyuarakan perasaan saya. Sepi.

Bukannya menutup diri dan berusaha untuk tidak kerasan, buktinya saya wajibkan diri selalu balik kantor usai kerja. Padahal berita sudah dikirim via dunia maya. Tidak wajib balik kantor. Tapi yah ini langkah konkrit mencintai dunia baru, yang sepertinya harus lebih keras diperjuangkan.

Kemarin, pertama kalinya rapat diadakan. Saya berhadapan langsung para dewa dan kalimat di atas meluncur. Tuntutannya satu, adaptasi mendesak dipercepat. Bukannya berlagak manja, saya sadar ini bukan kerjaan pertama dan saya bukan lagi anak lulus kemarin. Tapi kok sepertinya proses perpindahan tidak berjalan mulus.

Andai saya bisa meniru sahabat saya. Harus diakui, dedikasinya pada pekerjaan patut diacungi jempol. Dia tidak hanya menyebut pekerjaan sebagai rumahnya, tapi juga hidup. Yang artinya, kalau pekerjaan itu diambil, dia tidak punya apa - apa lagi. Meski terkadang mengeluh (hanya pada saya) dia tahu, yang dijalaninya adalah hidup itu sendiri. Ah saya iri.

Yang saya jalani sekarang memang pilihan yang jatuh sejak berseragam putih abu - abu dulu. Mimpi jadi kenyataan. Namun terkadang impian jauh lebih indah saat ia masih terkembang dalam angan, ketika erat digengam, manisnya tak senikmat bayangannya.

Terlepas dari kungkungan di atas, dalam rapat kemarin, kami diberi tahu rencana menginap di luar kota. Meski acara dimaksudkan lebih pada konsolidasi visi dan misi, saya sedikit lega, mudah - mudahan angin pegunungan dapat mencerahkan perjalanan saya. Biar semakin kerasan, itu saja harapannya.

Sandaran

October 31, 2008 | | Leave a Comment

Aku tak minta banyak, cukup tempat bersandar. Itupun sebentar, tuk kulepaskan lelah. Tak perlu kata - kata atau sentuhan berlebih. Cukup ijinkan aku istirahatkan pikiran, dan rebahkan kepala di pundakmu. Lalu biarkan aku menutup mata, ciptakan surgaku, barang sejenak, bersamamu.

Ti3a

October 30, 2008 | | 3 Comments

Mengapa tiga? Karena Tuhan mengajarkan Tri Tunggal Maha Kudus. Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Karena keluarga terdiri atas ayah, ibu dan anak. Tiga juga mengajarkan agar ingat pada diri sendiri, Tuhan dan sesama.

Lagipula, sepasang tangan takkan mencukupi. Kau perlu tangan orang lain untuk menarikmu bangkit. Tiga melengkapi dan menyempurnakan.

Mengapa tiga? Sebenarnya ini hanya alasan. Saya tidak cukup dengan dua, apalagi satu. Saat ini saya ingin tiga. Kalau bisa tiga, kenapa tidak? Sampai saya puas, sebelum nanti datang empat, lima dan enam.

Tiga, saya, aku dan kamu.