Nov
1
Terkungkung Sepi
November 1, 2008 | |
“Sudah dua minggu kalian di sini, harusnya sudah adaptasi. Kalian tidak kami anggap anak baru lagi, apalagi dibilang kalian itu bagus - bagus”
Tak tahu harus tersanjung atau malah mengecam orang yang membisikkan informasi ke para dewa itu. Kenapa harus dibilang bagus segala sih, yang ada malah jadi beban. Huuh….Hampir tiga minggu saya belum memanggil tempat ini rumah. Di belakang kepala masih terngiang tempat lama, baik rutenya, orang - orangnya, rutinitasnya. Dan yang paling menyiksakan yah seperti ini, pulang dari lapangan menemukan kantor kosong melompong. Teman lain, antara masih di lapangan atau malas balik ke kantor. Sepi, kosong, hampa, suasana yang seakan menyuarakan perasaan saya. Sepi.
Bukannya menutup diri dan berusaha untuk tidak kerasan, buktinya saya wajibkan diri selalu balik kantor usai kerja. Padahal berita sudah dikirim via dunia maya. Tidak wajib balik kantor. Tapi yah ini langkah konkrit mencintai dunia baru, yang sepertinya harus lebih keras diperjuangkan.
Kemarin, pertama kalinya rapat diadakan. Saya berhadapan langsung para dewa dan kalimat di atas meluncur. Tuntutannya satu, adaptasi mendesak dipercepat. Bukannya berlagak manja, saya sadar ini bukan kerjaan pertama dan saya bukan lagi anak lulus kemarin. Tapi kok sepertinya proses perpindahan tidak berjalan mulus.
Andai saya bisa meniru sahabat saya. Harus diakui, dedikasinya pada pekerjaan patut diacungi jempol. Dia tidak hanya menyebut pekerjaan sebagai rumahnya, tapi juga hidup. Yang artinya, kalau pekerjaan itu diambil, dia tidak punya apa - apa lagi. Meski terkadang mengeluh (hanya pada saya) dia tahu, yang dijalaninya adalah hidup itu sendiri. Ah saya iri.
Yang saya jalani sekarang memang pilihan yang jatuh sejak berseragam putih abu - abu dulu. Mimpi jadi kenyataan. Namun terkadang impian jauh lebih indah saat ia masih terkembang dalam angan, ketika erat digengam, manisnya tak senikmat bayangannya.
Terlepas dari kungkungan di atas, dalam rapat kemarin, kami diberi tahu rencana menginap di luar kota. Meski acara dimaksudkan lebih pada konsolidasi visi dan misi, saya sedikit lega, mudah - mudahan angin pegunungan dapat mencerahkan perjalanan saya. Biar semakin kerasan, itu saja harapannya.