Berburu Alas Kaki Buaya (2)

April 23, 2009 | |

Jakarta - Elizabeth, 30 tahun, manager sebuah perusahaan perbankan gusar. Ini hari kedua ia berburu alas kaki berlogo buaya merek Crocs. Kemarin Ia tidak kuasa menunggu antrian dan memilih untuk pulang tanpa hasil. “Saya sudah datang kemarin, tapi ga keburu beli karena ga ada waktu. Hari ini harus berhasil,” ujar perempuan berbusana setelan blazer abu - abu ini.

Lizbet, begitu panggilannya, mengaku bolos dari kantor demi mendapatkan alas kaki idamannya. “Teman - teman mem-backup saya di kantor, sebagai ganti mereka nitip dibeliin,” kata dia. Tak tanggung - tanggung, 15 pasang sandal sudah dalam daftar, Lizbet yang datang seorang diri harus menganggung pembelanjaan teman - teman dengan kartu kreditnya. Dengan menggunakan kartu kredit tertentu, pengunjung mendapatkan diskon tambahan 15 persen. “Tapi saya baru ingat kartu kredit saya sudah limit,” ujarnya ragu. Ia pun terpaksa menggunakan kartu lain dengan resiko tidak mendapatkan potongan tambahan.

Menurut Lizbet, pertaruhannya kali ini bukanlah pemborosan. Ia berkilah, produk Crocs sebelumnya tidak pernah melakukan obral potongan harga besar - besaran. “Kapan lagi ada acara kayak gini, saya penasaran” kata dia. Ia tidak pernah menggunakan produk Crocs sebelumnya.

Obral besar produk Crocs menempati ruangan ballroom lantai 8 gedung Senayan City mal lantai 8. Deretan sepatu dan sandal warna warni disusun sederhana dalam meja - meja panjang. Di bagian tengah ruangan terdapat deretan kardus besar yang diisi sandal sepatu dengan diskon 70 persen. Sebagian besar produk disusun tanpa bungkus plastik atau kardus hingga tidak jarang Crocs-Lover, julukan pengila produk ini harus memilih sendiri pasangan kanan kiri sepatu dan sendal. “Mohon dicek kembali nomor sepatu yang dipilih, jangan salah pilih,” ujar petugas dalam pengeras suara mengingatkan.

Setiap pengunjung hanya dibekali kantong kresek transparan untuk menampung barang belanjaan. Di sudut - sudut ruangan, banyak pengunjung duduk di lantai sambil mencoba hasil buruan mereka. Produk yang ditawarkan terbagi atas sandal dan sepatu untuk anak - anak, perempuan dan lelaki. Di hari keempat penjualan, produk yang tersisa didominasi alas kaki anak - anak. Lizbet mengaku kecewa. “Saya ga dapat apa - apa. Yang ditawarin ga banyak, ukurannya pun ga lengkap,” kata perempuan dengan ukuran kaki 9 ini. Terpaksa ia gigit jari dan sibuk mencari pesanan teman - teman yang lain. “Payah yah, padahal sudah jauh - jauh antri,” kata dia.

Saat tengah hari petugas mengumumkan penurunan harga. Dua produk alas kaki dewasa yang sebelumnya dipotong 50 persen, menjadi diskon 70 persen. “Mudah - mudahan semakin sore, semua didiskon 70 persen,” kata Lisbet sambil terkikik. Ia melihat ini upaya menarik hati pengunjung dewasa yang mulai kehabisan pilihan belanja.

Meski sudah dipotong besar - besaran, pengunjung masih harus menyiapkan kocek ratusan ribu untuk sebuah sandal. Harga termurah yang ditawarkan setelah diskon adalah Rp 179.900 untuk sebuah sepatu perempuan dengan ornamen bulu sintetis. Sedangkan untuk laki - laki dan anak, harga berkisar Rp 225 hingga Rp 600 ribu. Jenis produk yang ditawarkan berkisar 40 jenis sandal dan sepatu dengan jumlah terbatas. Tidak lupa Jibbits, pin penghias lubang khas produk Crocs dibandrol seharga Rp 50 - 75 ribu untuk pembelian 5 buah.

Tapi tidak semua pengunjung kecewa. Wulan, 41 tahun, ibu empat anak asal Bintaro mengaku senang mendapatkan alas kaki idaman. “Saya beli 5 pasang untuk anak dan suami, saya malah tidak dapat,” kata dia. Ia menuturkan, sudah lama anak - anaknya yang sudah menginjak remaja minta dibelikan produk Crocs. “Tapi karena harganya selangit, saya tidak beli,” tambahnya. Kesempatan obral kali ini tidak ia sia - siakan meski harus antri membeli hingga 2,5 jam. “Saya sampai masuk angin karena belum makan dari pagi,” kata dia.

Puas membeli, pengunjung belum bisa bernafas lega. Membayar belanjaan pun harus antri. Tak tanggung - tanggung, tiga lapis barisan menanti meski sudah terdapat 22 meja kasir. “Saya ingin buru - buru pulang, ini sudah keringat dingin,” tutur Wulan. Rata - rata pembeli memborong 4 hingga 9 pasang alas kaki untuk keperluan keluarga atau pesanan teman - teman kantor. Total dibutuhkan sekitar 5 jam untuk mendapatkan si alas kaki buaya ini, 2 jam antrian masuk lokasi, 1 jam berbelanja dan 2 jam antri membayar. Toh pengunjung seperti Wulan tetap tersenyum lega. “Rasa lelah hilang saat melihat anak - anak gembira mendapatkan apa yang diinginkan. It’s all worth it,” kata dia.


Comments



1 Comment so far

  1.    Api on April 24, 2009 11:21 pm

    You know what that means… Those that bought crocs before were robbed lol!

    Just remember, never get caught wearing crocs in public.. No matter which model or color ur wearing, they still look like shit

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind